Laman

Selasa, 18 Maret 2014

Bagaimana Menurut Anda ?

Font "Surakarta" ini tampak sangat asli Indonesia. Tapi dibuat oleh type designer Philadelphia (Martin L. Parker) ... terbit di myfonts 7 Maret 2014.
Positifnya, dunia global membuat desainer bisa mengambil inspirasi dari mana saja.---Saya sendiri sedang menyempurnakan font bergenre seperti ini (kebetulan inspirasinya juga dari hanacaraka) namun belum dipublikasi.--- Ini tantangan kepada desainer lokal untuk mengeksplorasi budaya sendiri sebagai lumbung inspirasi. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kita banyak belajar teori dan prinsip-prinsip desain moderen dari dunia Barat, bahkan terkadang malah mencontoh habis. Kreatifitas desainer memang biasanya datang dari "nyontek" dalam konteks belajar ngedisain.
Semoga saja font "Surakarta" tidak sama dengan kasus Malaysia mengklaim Reog Ponorogo, dan lainnya. ... Dalam hal ini Martin memang jujur mendeskripsikan sumber inspirasi dari mana. Tetapi itu menjadi bibit dollar buat dia. Bagaimana Menurut Anda? :)

Kamis, 07 Februari 2013

Jadi "seleb" Asyik Juga ya :)

Secuil rasa bangga seketika terbersit di hati ketika Magz online Linotype, Jerman memilih saya dalam tayangan wawancara eksklusif. Linotype adalah sebuah vendor font terbesar di dunia. Masuk ke sana, bagaikan seseorang yang terjerumus ke jalur bottle neck pada saat lalu lintas kendaraan sangat sibuk. Dan saya, setidaknya menjadi desainer typeface Indonesia yang ikut meramaikan daftar type designer di Linotype. Maka, rasa itu .... oh tidak .... begitu rupanya perasaan seseorang jika baru jadi "seleb", meski kecil-kecilan. Dada membuncah, ..... mengharu biru. :) Dalle'nu.

linotype



Wawancara itu sebetulnya telah ditayangkan sejak Agustus 2012 lalu. Simak pada link berikut ini. Entri point saya adalah sebuah font callygraphy bergenre komik. Font-nya sendiri diberi nama "coomeec". Font ini diapresiasi sebagai sebagai "semacam" gaya baru dalam genre komik. Tetapi bukan itu inti dari penyebab rasa yang membuncah itu. :)

Beberapa bulan kemudian, Coomeec telah masuk ke jajaran "The most popular releases of 2012" dalam kategori best selling font linotype (No 8). Itu saja sudah cukup menjadi pertanda baik bahwa karya bangsa ini sangat dihargai di luar tanah air. 

Rasa yang sama pernah terjadi pada awal tahun 2010, ketika font saya berlabel type foundry campotype bergenre display, berhasil menembus pasar Amerika Serikat di situs vendor myfonts. Dimana salah satunya dipercaya menjadi font inti pada interface game Ridge Racer Unbounded, Namco Bandai-Finlandia. Alhamdulillah, posisi saya di Myfonts rupanya menjadi inspirasi beberapa rekan type desainer di tanah air untuk berlomba memasarkan font mereka di sana. Pertanyaan saya kemudian, mengapa harus di luar negeri?... Pasar di tanah air khan sangat besar? .... Iya, namun sayangnya di negeri ini posisi antara ability to pay masyarakat kita tidak berdiri sejajar dengan willingness to pay. Belum lagi, tenyata pembajak tidak hanya hidup di lautan, namun lebih banyak di daratan. Belum lagi, ternyata masyarakat kita belum juga beringsut jauh secara merata ke arah kuadran makmur. Indikasi sederhananya, mereka masih bangga dengan barang yang diperoleh secara gratis. Di sini, bedakan antara mau dengan bangga. Semua orang mau gratis, tetapi di Indonesia, bangga jika gratis (Ini di luar asumsi menghalalkan segala macam cara, lho). Jika dirunut ke belakang, mmmm ..... entahlah, dari manakah asal muasal tabiat warisan itu. ........ Simak saja dialog kecil ini, .... "Bro, dapat dari mana software itu", ....."Beli online US$1.400 dari internet, Bro...seminggu lalu", ..............."Ah, elu sih, kenapa gak bilang, mahal banget, .... Software itu gue cuman beli 15 rebu perak, .... keren khan!!!

 

 ***

 

Menjalani profesi sampingan sebagai desainer typeface, memiliki keunikan tersendiri. Profesi ini sangat populer di luar negeri. Sebaliknya sangat eksklusif dan cenderung tidak dikenal di tanah air. Bagi yang mengenalnya pun memandang sambil memicingkan mata sebelah :) ..... "Bukankah sudah banyak font di komputer?" kira-kira begitu pertanyaan pada umumnya.  Dan saya balik bertanya, "Jika Anda membeli komputer atau perangkat alat komunikasi, ada hurufnya nggak?, .... "Jika ada, itu berarti sesungguhnya Anda telah membeli serangkaian huruf-huruf yang telah diikut sertakan ke dalam perangkat, windows atau Mac, misalnya", ..... "Dan jangan salah, Pangsa pasar dunia, terhadap pertumbuhan produksi huruf tidak memiliki batasan, sebagaimana minyak dan gas bumi", ....... "Wow, .... koq gitu sih?", ...... "Iya, karena itu ada di dalam ranah kreatif, dan font, sebagian "kakinya" berada di dalam dunia industri telekomunikasi dan elektronik, artinya ada produk nyata. Sebuah software font. Dan hebatnya lagi, produk nyata font (font adalah huruf secara individual, dan disebut typeface jika font berada dalam sebuah keluarga bold, miring dan sebagainya) tidak pernah sekalipun "dijual" dalam bentuk fisik, melainkan lisensi penggunaannya. Kenapa?, ..... sebab anda sedang membayar royalty dari sebuah intellectual property. Jadi font hanya menjadi "enclosed material" dari sebuah Hak Kekayaan Intelektual. Sama ketika anda membeli sebuah iPhone, (yang jika dihargai secara material pembentuknya, mungkin tidak akan sampai seratus ribu) tetapi Anda harus membayar jutaan rupiah untuk seperangkat iPhone di mana di dalamnya terkandung ratusan paket Hak Kekayaan Intelektual. .... "Mmmmm, begitu ya", ...... "Ya iyalah, haha, ... coba anda perhatikan, hampir semua sisi kehidupan selalu membutuhkan font.... mulai dari dunia pendidikan, kedokteran, militer, sosial, ekonomi, ........ nama jalan hingga tarif unik di wc umum, ... di situ anda akan menemukan huruf"

Rabu, 06 Februari 2013

masa depan itu selalu datang



Ketika seorang terpidana mati pelaku kejahatan bergumam, "Sungguh saya telah diberi hidup dan kebebasan memaknainya, tapi dalam 50 tahun, saya hanya menghabiskannya di penjara selama 20 tahun. Dan kini saya sedang menunggu detik-detik terakhir sang algojo menghunjamkan pedangnya"

Bagaimana dengan Anda dan yang pasti juga saya? Dimana anda menghabiskan umur dan kebebasanmu? Sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak perlu dipublikasikan di arena manapun. Tapi yang pasti ini pertanyaan yang "harus" dijawab oleh setiap insan kepada dirinya sendiri.

Tak seperti narapidana di atas --- yang telah meraba detik-detik akhir hidupnya --- kita selalu menghadapi "remang-remang"-nya informasi masa depan, atau malah masa depan itu terlalu "berkilau " hingga sama sekali luput dari sentuhan panca indra manusia. Namun yang pasti masa depan itu selalu datang, detik per detik , menambah umur, lalu menabrak usia kita, memenggalnya hingga tak bisa lagi bernafas, dan lagi ... dan lagi masa depan akan datang. ..... Lalu dimana kita ketika itu? Aaah mari kita belajar ... sekalipun kepada seorang narapidana .....

Di pikir-pikir .... usia penuh dengan sihir
Hingga langkah semakin sumir
Ketika muara tak akan mungkir
tak ada alasan mendayung ke hilir
Jadi ... Mari penuhi dengan Dzikir

Testing a new buginese webfont

FONT-FAMILY: SAWITTO CAMPOTYPE (Beta Ver)
currently not available on public space


esGEk rimul wEnqi.
kubli esGEv tokqi.
rigiligv tiRoku.

Senin, 18 Agustus 2008

campotype - lifestyle typography


campotype (beta version), lifestyle typography
campotype has published a new website as a vehicle for the creative typographer from Indonesia. Besides producing new kinds of fonts, this site provides various information and knowledge for typography lovers.

Rabu, 02 Januari 2008

silakan catat sendiri ....


Tahun 2007 ke belakang --- seperti anda tahu --- adalah dekade penuh ketegangan. Bencana dalam berbagai bentuk dan kedahsyatannya, sungguh aggresif hingga menutupi ruang-ruang kebahagian dan ketenangan sebagian besar masyarakat Indonesia ... dan tentu saja masyarakat pada berbagai belahan dunia. Antrian bencana ini tidak hanya bersifat insidentil seperti tsunami, gempa, kecelakaan transportasi, fenomena "aneh" seperti lumpur Lapindo dan berbagai aspeknya, gempuran berbagai jenis penyakit menular, bahkan perang saudara, tidak hanya memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Namun kita juga sudah kian akrab dengan bencana struktural seperti meruyaknya kemiskinan, kehidupan individualistik, --- yang mengoyak-ngoyak rasa persaudaraan dan saling menghargai --- infiltrasi ekonomi dan kebudayaan yang membuat kita segan memilih kebaikan dan kebenaran (dalam berbagai catatan, tengok kasus pornography dan tayangan-tayangan amoral yang dilegalkan), krisis moral dan kepemimpinan (silakan tambah catatan anda sendiri .... ) yang menandakan sudah sedemikian runtuhnya moral bangsa ini. Dan banyak lagi.

Sedemikian aggresifnya bencana ini hingga kita sendiri pun menjadi terbiasa.
Mungkin masih ada benarnya, bahwa dampak paternalistik masih mendarah daging dalam tubuh bangsa ini. Dapat dilihat berbagai catatan tentang keengganan untuk keluar dari status quo: enggan mengungsi (meski gunung sudah batuk, lereng-lereng gundul yang setiap saat longsor dan banjir seleher) sehingga menyulitkan distribusi pertolongan, enggan hidup bersih hingga sampah dimana-mana menyumbang bau busuk sekaligus menyumbat saluran air, enggan melihat generasi maju dengan membiarkan pundi-pundi anggaran pendidikan tetap kecil, asyiknya jadi koruptor hingga enggan berhenti, dan berbagai macam keengganan (silakan tambah catatan anda sendiri .... )

Anehnya, ternyata kita pun enggan menolong dan hanya sibuk dengan rating tayangan kemiskinan, tindak kriminal, kasus korupsi, urusan rumah tangga artis dan orang-orang terkenal lainnya, terpuruknya prestasi olah raga, bahkan harga diri bangsa dimata bangsa tetangga, dan lain-lain (silakan tambah catatan anda sendiri .... ) :-)

Maka kinilah saatnya untuk berubah. Meski lambat (menurut anda) dari pada tidak sama sekali. Berbagai aspek bangsa dapat memulainya dari tempatnya berpijak, termasuk anda para Blogger :-))) Bagaimana bentuk dan rupa perubahan itu ? (silakan tambah catatan anda sendiri .... )

Saya sendiri memulainya dengan kesegaran bunga ini :-)

Selasa, 31 Juli 2007

Keretaku



Semburat jingga sinar matahari sore yang biasanya menyeruak di sela awan kali ini bersembunyi. Sejak seminggu lalu langit di atas Bogor kembali mengirim guyuran hujan yang mengakhiri episode kemarau panjang di kota sejuk ini. Gesekan air sungai Cisadane dengan batu-batu kali sudah mulai bergemericik, ditingkahi tarian ikan-ikan kecil yang sesekali melompat riang ke atas batu. Tak jauh dari situ, terdengar dahan-dahan pohon mahoni berderik diiringi suara halus dedaunan yang melambai ditiup angin.

Di bibir kota, pada sebuah stasiun kereta api --- begitu orang menyebutnya, meskipun sebenarnya hanyalah sebuah trem[1], kereta yang ditarik dengan tenaga listrik --- tampak rel-rel yang semakin aus membelah ke utara hingga stasiun Kota, Jakarta. Stasiun Bogor sendiri sesungguhnya adalah bangunan tua. Di sana-sini masih tampak jejak-jejak arsitektur peninggalan Belanda. Beberapa bagian bangunan eksotis itu tampak lapuk dimakan usia, meskipun telah berkali-kali mengalami renovasi. Beberapa kelompok lumut kembali menghiasi dinding-dindingnya yang bercat hijau kusam.
Beberapa puluh meter sebelum mencapai bangunan utama stasiun, deretan lapak dan pedagang kaki lima memenuhi sisi jalan hingga ke stasiun. Andai saja di pintu masuk stasiun tidak tertera keterangan nama stasiun, rasanya sulit dibedakan antara stasiun ini dengan pasar. Arus penumpang yang demikian banyak mengundang para pedagang berebutan menempati posisi paling strategis. Namun sayang kegiatan itu sekaligus membentuk ketidaknyamanan lalu lintas.
Di depan pintu stasiun, mobil-mobil angkutan kota berbaris tak beraturan berebut penumpang. Bila kereta tiba, biasanya orang-orang berhamburan keluar dari pintu stasiun. Saat-saat seperti inilah yang paling ditunggu. Tak henti-hentinya sopir meneriakkan jalur trayek dan tujuan perjalanan. Berbeda dengan bus kota, angkutan kota berkapasitas lima belas penumpang ini tanpa kenek. Wajar saja sopir bekerja merangkap sebagai kenek dan kasir.
Stasiun kereta Bogor selalu ramai. Puncak kepadatannya di waktu pagi di awal jam kerja dan sore hari ketika para pekerja kembali ke rumah masing-masing. Jarak dan waktu tempuh antara Bogor dengan Jakarta yang cukup signifikan jauhnya, membuat para pekerja lebih memilih trem sebagai moda transportasi yang paling menarik dan masuk akal. Maka tidak mengherankan jika setiap hari arus migrasi melalui stasiun Bogor menjadi sangat dinamis. Kaum urban ini tampaknya kebanyakan pekerja kelas menengah ke bawah dan sebagian mungkin pegawai negeri. Mereka menjadikan Jakarta sebagai pusat mencari nafkah dan memilih Bogor dan sekitarnya sebagai tempat tinggal. Mereka sengaja bermukim di daerah ini untuk menghindari kepadatan Jakarta yang kian hari semakin sumpek.
Trem yang silih berganti menapaki rel-rel tua terdiri dari dua kelas, ekonomi dan eksekutif. Tidak sulit merasakan distorsi antara keduanya hanya dengan melihat gerbong-gerbongnya. Kereta eksekutif, biasa disebut kereta Pakuan AC. Rasanya tidak berlebihan diberi nama seperti itu karena memang kereta ini dilengkapi fasilitas Air Conditioner (AC) dengan gerbong masih tampak baru dan terawat. Pintunya dapat terbuka tutup dengan penggerak listrik. Kemewahan lain juga terlihat dari fasilitas tempat duduk empuk dan nyaman. Penumpang yang ingin memperoleh tempat duduk harus membeli tiket lebih awal. Selain informasi tujuan keberangkatan, pada tiket itu tertempel sit number[2]. Dalam kondisi padat, penumpang yang tidak mendapat tempat duduk, tidak segan-segan merapat di lantai. Hal ini dikarenakan lantai gerbong cukup bersih. Sampah di gerbong ini termasuk barang langka. Beberapa penumpang lebih kreatif membawa kursi lipat sendiri. Bentuknya kecil serta terbuat dari logam dan kain. Sementara penumpang yang lebih senang berdiri dapat bergelantungan pada ring kecil yang kokoh tertempel pada balok-balok besi di depan rak bagasi. Ring tersebut cukup banyak tersedia pada setiap gerbong.

Hampir semua informasi di dalam gerbong tertulis dalam ejaan Katakana bahasa Jepang. Sejatinya kereta ini memang adalah produk import dari negeri matahari terbit itu[3]. Pada salah satu sudut dari setiap gerbong terdapat petunjuk tempat duduk yang diperuntukkan bagi orang yang sudah uzur, orang cacat dan perempuan terutama ibu hamil. Masalahnya, kereta ini di operasikan di Indonesia. Fasilitas bagi kaum ‘lemah’ itu sepertinya tidak begitu berlaku, apalagi jika volume penumpang sangat padat. Entah mengapa tingkat kepatuhan orang Indonesia terhadap peraturan relatif masih rendah.
Sebaliknya tampak pada kereta ekonomi. Kereta ini senantiasa berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang di setiap stasiun sepanjang Bogor dan Jakarta. Kebanyakan asal kereta ini tidak berbeda dengan kelas eksekutif. Namun gerbong kereta ini biasanya tidak berpintu, sementara jendelanya kadang bisa ditutup dan lebih banyak tidak. Bahkan sebagian besar gerbong tidak memiliki penutup jendela sama sekali. Sungguh jauh dari kesan baru. Penumpang kereta ekonomi selalu paling banyak. Mereka bertelekan pada tiang dan rak-rak barang dari logam berwarna keperakan. Bahkan pada puncak kepadatan penumpang, gerbong berkapasitas kurang lebih delapan puluh orang itu bisa terisi dua kali lipatnya. Dari luar tampak penumpang bergelayutan di pintu seolah hendak tumpah ke jalan. Sementara penumpang di dalam sulit menempatkan posisi kaki dengan kuda-kuda yang baik untuk berdiri. Tubuh penumpang menjadi oleng kesana-kemari. Saling mendorong dari berbagai arah membuat seseorang harus menahan berat badan orang lain. Ini biasa terjadi ketika beberapa penumpang harus turun di suatu stasiun atau kereta direm mendadak. Penumpang yang sudah terbiasa, akan bergeser perlahan-lahan mendekati pintu jika ia mau turun di stasiun tertentu. Bayangkan jika kereta hanya berhenti di setiap stasiun tidak kurang dari setengah menit. Bila terlambat, penumpang harus meneruskan perjalanan menggunakan angkutan umum jenis lainnya. Atau turun di stasiun berikutnya menunggu kereta balik.
Lalu tak salah lagi, padatnya penumpang membuat hawa di dalam gerbong semakin panas. Dipastikan keringat mereka mengucur deras bercampur baur dan mengeluarkan bau tak karuan. Benar-benar produk kereta paling ekonomis. Hebatnya lagi, rasanya belum pernah dijumpai seseorang menutup hidung ketika mencium bau paling menyengat dari badan penumpang lain.
Sekelompok anak muda --- bahkan beberapa diantaranya anak-anak berusia tanggung --- menyenangi resiko dengan menumpang di atas atap, sekalipun gerbong relatif kosong. Mereka tidak peduli dengan peringatan-peringatan petugas. Pemasangan besi tajam di atap gerbong serta pagar penghalang di beberapa peron, rupanya tak berarti apa-apa bagi mereka. Bahkan mereka sungguh tidak peduli dengan bahaya didepan mata. Jatuh ketika kereta berlari kencang, atau tersengat kabel listrik 5000 volt yang terletak hanya beberapa senti di atas kepala mereka.Inilah bentuk lain dari apresiasi terhadap heroisme bangsa pejuang. Jika dugaan ini keliru, dipastikan inilah bentuk ekspresi paling konyol sebuah bangsa kepala batu. Yaitu bangsa yang tidak mau belajar dan menangguk hikmah dari pengalaman.
Seperti halnya bus kota, kereta ekonomi identik dengan pencopet. Setidaknya itu anggapan umum bagi pengguna jasa angkutan massal ini. Bisa diduga para penjahat kecil itu lebih senang memanfaatkan kepadatan, kegaduhan dan kelengahan penumpang dalam beroperasi. Maka tidak heran jika kewaspadaan terhadap hal ini menciptakan keunikan tersendiri dalam perilaku perpakaian penumpang. Ransel (back pack) yang seharusnya di pasang di punggung, kini malah ke depan membuat pemakainya tampak seperti ibu hamil.
Hal yang sedikit mahal ketika menumpang kereta ekonomi, adalah memperoleh tempat duduk. Mungkin ini yang terlintas pertama kali di setiap benak penumpang ketika mulai menjejakkan kakinya ke dalam gerbong. Jika beruntung, mereka bisa mendapatkannya, pada saat gerbong kosong atau ketika seseorang meninggalkan tempat duduknya. Itupun kadang harus berlomba dengan penumpang lain yang sedari tadi mengincar tempat duduk fiber itu.
Disela kantuk yang biasa menggerogoti, sesekali penumpang cukup terhibur dengan kehadiran sekelompok remaja pengamen. Mereka tampil teratur dengan tugas masing-masing. Sebagai pendahuluan salah seorang dengan fasih memulai ucapan salam atau pengantar alakadarnya yang sudah dihapalkan. Melalui alat musik standard meski sederhana, mereka sepertinya cukup terampil dengan lagu-lagu hits yang mereka tampilkan. Mereka bermain kompak. Suara indah tetap keluar dari dawai gitar tua penuh stiker. Kadang beberapa kelompok pengamen membawa peralatan sebagaimana layaknya band profesional. Selain, bass, guitar listrik, biola, drum sederhana yang biasa disebut tom-tam, mereka juga membawa speaker besar yang tentu saja berat. Sebagian besar peralatan itu menggunakan tenaga battere. Rupanya mereka berusaha menyodorkan sistem akustik yang memadai sehingga menghasilkan penampilan yang tentu lebih heboh untuk kelas kereta.
Selain pemain musik dan vokalis, seorang diantara mereka juga ditugaskan mengoleksi sumbangan penumpang menggunakan kantong bekas makanan instan. Namun entah bagaimana perasaan penumpang, bila pengamen lain tampil solo sambil membawa alat sangat sederhana seperti botol plastik diisi pasir atau kerikil kecil yang digerak-gerakkan, sehingga menimbulkan bunyi monoton. Belum lagi bila ”musik” itu mengiringi suara sumbangnya. Kali lain seorang ibu-ibu muda tiba-tiba bernyanyi sambil menggendong balita. Sulit diterka apakah orang-orang seperti ini sedang mengamen atau mengemis. Positifnya, anggap saja mereka sedang bekerja dan layak dihargai.
Kereta ekonomi tidak bisa dipisahkan dengan pedagang asongan. Mereka membawa dagangan dengan cara berbeda-beda. Pedagang yang menjual korek gas, gunting kuku, peniti, pulpen bahkan kancing dan benda-benda kecil lainnya lebih senang menggantungnya di leher. Sedangkan penjual minuman membawa ember diisi es untuk mempertahankan kesegarannya. Penjual makanan dan sebagian minuman lebih senang membawa gerobak sederhana, atau lebih tepatnya rak yang dipasangi roda kecil. Semuanya gigih meneriakkan kalimat-kalimat penggugah dari gerbong ke gerbong. Anehnya, pedagang ini bisa dengan lincah mendorong gerobaknya disela penumpang, sepadat apa pun.
Semua hingar-bingar di gerbong kereta ekonomi menjadi penanda paling signifikan atas perbedaan dengan kereta eksekutif yang ”sepi” dalam keramaian penumpangnya. Namun yang sama dari kedua kelas kereta ini, selain kegaduhan berirama yang ditimbulkan oleh gesekan roda kereta dengan rel, mungkin etika penumpangnya. Tata krama atas nama logika tua-muda, nenek-remaja, lelaki-perempuan, tidak sepenuhnya berlaku di sini. Penumpang perempuan, jangan berharap dipersilahkan duduk oleh seorang lelaki yang duduk di depannya.

[1] Sejak kemunculan trem di Jakarta yang sejak dulu dikenal bernama Batavia, konon awalnya ditarik oleh kuda. Namun akhirnya diganti dengan mesin oleh pemerintah Belanda karena menyisakan kotoran-kotoran kuda di sepanjang jalan.

[2] Seseorang yang terlambat naik namun mendapat sit number (nomor tempat duduk) logikanya bisa menyuruh orang lain meninggalkan tempat duduknya sekalipun dia adalah ibu-ibu atau nenek-nenek tua. Kejadian-kejadian menyangkut hal ini biasa terjadi. Hal ini sulit dipahami bagi orang-orang yang masih memegang teguh adat ketimuran.

[3] Di Jepang, kereta jenis ini adalah yang paling tertinggal, bahkan bisa dikatakan barang sisa export atau kereta ”buangan”